Stop Cuek! TBC Nggak Main-Main
Penulis : Galuh Pradifta Marwata- 04 Januari 2026 | 14:00 WIB
Stop Cuek! TBC Nggak Main-Main
Penulis : Galuh Pradifta Marwata- 04 Januari 2026 | 14:00 WIB
Source :
Cimahi, 04 Januari 2026 – Banyak orang merasa sehat karena masih bisa beraktivitas, nongkrong, kerja, kuliah, atau scrolling sampai larut malam. Tapi ada satu penyakit yang sering datang tanpa permisi pelan, diam-diam, dan kadang baru ketahuan ketika kondisinya sudah berat: Tuberkulosis (TBC).
TBC menyerang paru-paru dan menular lewat udara. Satu batuk saja bisa melepaskan partikel halus yang tak terlihat, namun bisa terhirup orang lain di sekitar. Yang bikin ngeri: banyak penderitanya tetap beraktivitas seperti biasa, karena gejalanya mirip batuk biasa. Padahal, bakteri di dalam tubuh sedang berkembang.
Untuk generasi yang terbiasa bergerak cepat, multitasking, dan sering berada di ruang tertutup ber-AC, ini bukan ancaman jauh. Ini ancaman yang dekat.
Gejala yang Sering Dianggap “Nanti Juga Sembuh”
TBC jarang datang dengan drama besar di awal. Biasanya dimulai dari hal-hal yang sering disepelekan:
Batuk lama banget dan nggak sembuh-sembuh
Dahak keruh atau bercampur darah
Badan cepat capek, nafas terasa berat
Berat badan turun tanpa diet
Demam dan keringat malam
Di sinilah masalahnya, banyak orang memilih tahan dulu, minum obat warung, atau pura-pura kuat. Akhirnya, bukan cuma diri sendiri yang berisiko, keluarga, teman satu kos, bahkan rekan kerja ikut terpapar.
Lingkungan Kita, Tempat Bakteri Mudah Menyebar
Kelas tertutup, coworking space, transportasi umum, kamar kos yang jarang dibuka jendelanya, itu semua adalah tempat favorit TBC menyebar.
Bukan berarti kita harus panik. Tapi kita perlu pintar, dengan cara:
Tutup mulut saat batuk/bersin
Pakai masker saat sedang sakit
Buka jendela, biarkan udara masuk
Jangan berbagi alat makan
Jangan mengabaikan kontak dekat dengan penderita
Ini bukan sekadar kebiasaan “sok bersih”. Ini cara melindungi diri kita dan orang lain.
Kabar Baiknya
TBC Bisa Disembuhkan, akan tetapi Butuh Komitmen, TBC juga bisa sembuh. Obatnya tersedia dan umumnya bisa diakses gratis. Tantangannya? Konsisten. Pengobatan pada orang yang terkena TBC berlangsung selama 6–9 bulan. Lama? Iya. Tapi berhenti di tengah jalan jauh lebih berbahaya. Karena bakteri bisa jadi kebal terhadap obat, dan disitulah penyakit akan menjadi lebih berat, dan proses penyembuhan menjadi jadi lebih sulit. Ini bukan soal kuat atau lemah. Ini soal berani bertanggung jawab pada tubuh sendiri, dan pada orang di sekitar.
Stigma Itu Musuh Sebesar Penyakitnya
Banyak pasien memilih diam karena takut dijudge, dianggap “menular”, atau “kotor”. Akhirnya, mereka menunda berobat, dan kondisi menjadi lebih buruk. Padahal faktanya:
TBC bukan aib.
TBC bukan karma.
TBC bisa menyerang siapa saja.
Yang dibutuhkan penderita adalah informasi yang benar, dukungan, bukan tatapan sinis.
Kenapa Gen Z Harus Peduli?
Karena Gen Z adalah generasi yang:
Paling Sering Mobile
Aktif di Ruang Publik
Hidup di Lingkungan Padat
Punya Akses Informasi Paling Luas
Kita punya privilege, tahu lebih cepat, bergerak lebih cepat, dan bisa menyebarkan awareness lebih luas. Kalau generasi ini paham, rantai penularan bisa diputus lebih cepat.
Intinya
TBC tidak selalu datang dengan tanda dramatis. Namun dampaknya nyata. Mengabaikan gejala berarti memberi penyakit waktu untuk berkembang. Memilih peduli berarti memberi diri kita kesempatan untuk sehat dan menjaga orang lain tetap aman.
Jangan tunggu batuk jadi panjang cerita.
Kalau tubuh memberi tanda, dengarkan!.
.
.
Berita Selengkapnya : https://www.aditiasynexagroup.my.id/berita
________________________________
Penyunting : Aditia Puspa M